
Malam itu hujan turun rintik-rintik. Angin berembus pelan melewati gang sempit di belakang kompleks perumahan. Lampu jalan yang biasanya terang kini berkedip-kedip seperti sedang ikut lomba disko. Suasana benar-benar mendukung untuk cerita seram.
Di sebuah rumah kontrakan sederhana, tinggal seorang pemuda bernama Beni. Ia terkenal sebagai orang paling penakut di kampung. Suara kucing jatuh dari pagar saja bisa membuatnya membaca doa sepanjang malam.
Suatu hari, Beni pulang larut setelah lembur. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 11 malam. Jalan menuju rumahnya cukup sepi. Hanya ada suara SITUS BOBATOTO dan sesekali gonggongan anjing dari kejauhan.
Saat melewati ujung gang, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Di bawah pohon mangga tua, ada sosok putih.
Kepalanya berada di bawah.
Kakinya justru di atas.
"Nunging..." gumam Beni dengan suara bergetar.
Ia langsung teringat cerita warga sekitar tentang hantu nunging yang sering muncul saat malam Jumat.
Konon, siapa saja yang melihatnya akan mengalami kesialan selama tujuh hari tujuh malam.
Jantung Beni berdegup kencang.
Sosok itu diam saja.
Tidak bergerak.
Tidak bersuara.
Hanya berdiri terbalik seperti sedang menantang gravitasi.
Beni perlahan mundur.
Namun saat ia hendak berlari, sosok itu tiba-tiba melambaikan tangan.
"Mas!"
Beni membeku.
"Mas, tolongin saya!"
Suara itu terdengar seperti suara Perempuan RTP BOBATOTO.
Bukannya lega, Beni malah semakin takut.
Dalam film-film horor, hantu yang bisa bicara biasanya lebih berbahaya daripada yang cuma diam.
"Jangan dekat-dekat!" teriak Beni.
"Saya bukan hantu!"
"Lalu kenapa nunging?"
"Saya jatuh dari sepeda!"
Beni mengernyit.
Ia memberanikan diri mendekat beberapa langkah.
Ternyata benar.
Yang ia kira hantu ternyata seorang perempuan muda yang tersangkut di antara cabang pohon setelah menabrak batang mangga saat bermain sepeda listrik.
Posisinya benar-benar terbalik.
Beni menghela napas panjang.
"Astaga. Saya kira hantu."
Perempuan itu mendengus.
"Kalau saya hantu, mana mungkin minta tolong."
Mereka akhirnya bekerja sama menurunkan perempuan itu. Namanya Rina, mahasiswa yang baru pindah ke daerah tersebut.
Setelah kejadian itu, Beni pulang dengan perasaan lega.
Namun ternyata cerita belum selesai.
Dua malam kemudian, saat membeli mi instan di warung Pak Darto, ia mendengar warga BOBA TOTO GACOR sedang membicarakan sesuatu.
"Kemarin malam saya lihat hantu nunging di lapangan bola."
"Saya lihat juga!" sahut warga lain.
"Matanya merah."
"Rambutnya panjang."
"Seram sekali."
Beni tertawa kecil.
Menurutnya, pasti ada orang lain yang salah lihat seperti dirinya.
Namun Pak Darto menggeleng.
"Bukan salah lihat."
"Lho?"
"Saya juga lihat."
Beni mulai tidak nyaman.
Empat orang berbeda melihat hal yang sama di lokasi berbeda.
Kalau semuanya salah lihat, berarti tingkat kesalahannya sudah seperti ujian matematika nasional.
Malam berikutnya, rasa penasaran mengalahkan rasa takut.
Beni memutuskan menyelidiki.
Dengan membawa senter, payung, dan bekal keberanian pinjaman dari tetangga, ia berjalan menuju lapangan bola yang disebut warga.
Jam menunjukkan pukul 12 malam.
Kabut tipis mulai turun.
Lapangan terlihat kosong.
Beni hampir menyerah ketika tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Kriiit..."
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
"Kriiit..."
Suara itu muncul lagi.
Kali ini dari arah gawang.
Beni menyorotkan senter.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Sosok putih.
Nunging.
Diam.
Persis seperti yang digambarkan warga.
Bulu kuduk Beni langsung berdiri.
Kakinya ingin lari.
Tetapi rasa penasaran menahannya.
Ia memberanikan diri mendekat sedikit demi sedikit.
Satu Langkah SITUS BOBA TOTO.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Lalu sosok itu bergerak.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Kepalanya berputar.
Matanya menatap lurus ke arah Beni.
"Aaaaaaaaa!"
Beni berteriak sambil menjatuhkan senter.
Sosok itu ikut berteriak.
"Aaaaaaaaa!"
Beni bingung.
Kenapa hantunya ikut panik?
Mereka saling berteriak selama hampir lima detik sebelum akhirnya berhenti karena sama-sama kehabisan napas.
"Siapa kamu?" tanya Beni.
"Harusnya saya yang tanya!" jawab sosok itu.
Ternyata suara itu laki-laki.
Beni semakin bingung.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil senter dan menyorot wajah sosok tersebut.
Yang muncul bukan wajah hantu.
Melainkan wajah Ujang BOBATOTO.
Tukang servis elektronik yang tinggal dua gang dari rumahnya.
"Ujang?"
"Beni?"
Mereka saling menatap.
Suasana horor mendadak berubah canggung.
"Lah, ngapain kamu nunging?" tanya Beni.
Ujang menghela napas panjang.
"Saya lagi latihan."
"Latihan apa?"
"Konten media sosial."
Beni hampir tersedak udara.
"Kamu bikin warga sekampung takut demi konten?"
Ujang mengangguk.
"Saya lihat tren akrobat terbalik. Mau coba viral."
"Kamu pakai kain putih segala?"
"Supaya estetik."
"Yang ada jadi mistik!"
Ujang tertawa malu.
Kasus hantu nunging ternyata berhasil dipecahkan.
Setidaknya begitu yang dipikirkan Beni.
Namun seminggu kemudian muncul kejadian baru.
Kali ini lebih aneh.
Warga kembali melihat sosok nunging.
Padahal Ujang sedang berada di luar kota SITUS BOBATOTO.
"Mustahil Ujang," kata Pak Darto.
"Dia lagi ikut pelatihan servis AC."
Beni mulai merinding lagi.
Kalau bukan Ujang, lalu siapa?
Malam itu ia kembali melakukan penyelidikan.
Namun kali ini ia mengajak beberapa warga.
Mereka membawa senter, peluit, dan camilan karena penyelidikan tanpa camilan terasa kurang profesional.
Sekitar pukul satu dini hari, mereka melihat sosok itu di dekat kuburan tua.
Nunging.
Diam.
Tidak bergerak.
Persis seperti sebelumnya.
"Siap?" bisik Pak Darto.
"Siap."
Mereka mendekat bersama-sama.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Lalu tiba-tiba sosok itu jatuh.
Bruk!
"Astaga!" teriak seseorang.
Mereka segera menghampiri.
Dan lagi-lagi kenyataan jauh lebih aneh daripada dugaan.
Ternyata sosok tersebut adalah Yoga, instruktur yoga keliling yang sedang membuat video promosi.
Ia sedang melakukan pose handstand.
Karena terlalu lama berdiri terbalik, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh sendiri.
"Kenapa malam-malam di kuburan?" tanya Pak Darto.
"Supaya videonya unik."
"Yang unik bukan videonya. Warganya yang kena serangan jantung."
Sejak saat itu, warga kampung BOBATOTO LOGIN mulai curiga terhadap siapa pun yang berdiri terbalik.
Anak kecil main jungkir balik langsung diawasi.
Orang senam pagi dianggap mencurigakan.
Bahkan suatu ketika ada tukang kebun membungkuk mengambil cangkul, lalu diteriaki karena dikira sedang proses berubah menjadi hantu nunging.
Lama-kelamaan cerita hantu nunging berubah menjadi lelucon kampung.
Setiap ada kejadian aneh, warga selalu menyalahkan hantu nunging.
Lampu mati?
"Hantu nunging."
Wifi lambat?
"Hantu nunging."
Ayam hilang?
"Pasti ulah hantu nunging."
Sampai suatu malam, ketua RT mengadakan rapat khusus.
Dengan wajah serius, beliau berdiri di depan warga.
"Saya ingin mengumumkan sesuatu."
Semua diam.
"Hantu nunging resmi tidak ada."
Warga bertepuk tangan.
"Yang ada hanya warga yang terlalu kreatif."
Seisi balai RT tertawa.
Beni ikut tertawa paling keras.
Ia teringat bagaimana dulu dirinya hampir pingsan hanya karena melihat orang tersangkut di pohon.
Sejak saat itu, kampung mereka kembali tenang.
Tidak ada lagi laporan penampakan hantu nunging.
Tidak ada lagi teriakan tengah malam.
Tidak ada lagi warga yang membawa senter sambil membaca doa karena melihat orang berdiri terbalik.
Namun hingga sekarang, satu aturan tidak tertulis masih berlaku di kampung tersebut.
Kalau ada yang ingin latihan handstand, yoga, atau membuat konten akrobatik, wajib dilakukan siang hari.
Karena kalau nekat nunging tengah malam, bukan hantu yang datang.
Melainkan satu kampung lengkap dengan sapu, peluit, dan Pak Darto yang siap bertanya:
"Ini olahraga atau mau bikin warga masuk rumah sakit?"